Posted by Unknown on Oktober 05, 2017 with No comments
Manusia membutuhkan hidayah
lebih dari kebutuhan mereka terhadap makan dan minum. Bahkan Allâh Subahnahu wa
Ta’ala memerintahkan kaum Muslimin dalam shalatnya untuk senantiasa memohon
hidayah kepada Allâh Azza wa Jalla sebanyak tujuh belas kali setiap harinya.
Ini menunjukkan betapa pentingnya hidayah itu dalam hidup dan kehidupan
manusia.
Betapa pentingnya masalah
hidayah, banyak manusia yang memohon dan mengharapkan hidayah menyapa dirinya.
Tapi sayang, mereka tidak mau berusaha untuk menjalankan sebab-sebabnya.
Hidayah tidak akan datang secara tiba-tiba dan gratis. Hidayah memerlukan
perjuangan untuk mendapatkannya. Tidak mungkin Allâh Subahnahu Wa Ta’ala
mengutus malaikat-Nya untuk menuntun tangan seorang hamba agar bergerak menuju
masjid untuk menunaikan shalat berjamaah, kalau hamba tersebut bermalas-malasan
ketika mendengar adzan dan tidak mau mengambil air wudhu. Tidak mungkin juga
Allâh Azza wa Jalla mengutus malaikat-Nya untuk menarik tangan seorang hamba dari
kemaksiatan dan kemungkaran, kalau hamba tersebut tidak berusaha menjauhinya.
![]() |
| Masjid Jami Nurul Hidayah, Pd. Terong |
Ibnul Qayyim rahimahullah
berkata,
اَلْهِدَايَةُ هِيَ الْعِلْمُ بِالْحَقِّ
مَعَ قَصْدِهِ وَإِيْثَارِهِ عَلَى غَيْرِهِ، فَالْمُهْتَدِيْ هُوَ الْعَامِلُ بِالْحَقِّ
الْمُرِيْدُ لَهُ
Hidayah yaitu mengetahui
kebenaran disertai dengan niat untuk mengetahuinya dan mengutamakannya dari
pada yang lainnya. Jadi orang yang diberi hidayah yaitu yang melakukan
kebenaran dan menginginkannya.[1]
PENTINGNYA HIDAYAH
Seorang Muslim dalam kehidupannya sangat membutuhkan hidayah. Ia tidak bisa
lepas dari hidayah Allâh Subahnahu Wa Ta’ala. Apalagi di zaman yang digambarkan oleh
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dimana fitnah itu seperti potongan malam
yang kelam, paginya seorang beriman namun sore harinya ia menjadi kafir.
Sorenya beriman namun di pagi harinya ia menjadi kafir, ia menjual agamanya
demi sedikit dari harta dunia. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda :
بَادِرُوْا بِالْأَعْمَـالِ فِتَنًا
كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْـمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا،
أَوْ يُمْسِي مُـؤْمِنًـا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيْعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا.
Bersegeralah mengerjakan
amal-amal shalih karena fitnah-fitnah itu seperti potongan malam yang gelap; di
pagi hari seseorang dalam keadaan beriman dan di sore hari menjadi kafir, atau
di sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari menjadi kafir. Ia menjual
agamanya dengan keuntungan duniawi yang sedikit.[2]
Dalam masalah hidayah ini,
Ibnu Rajab rahimahullah telah membagi manusia menjadi tiga bagian :
- Pertama, رَاشِدٌ (rasyid) yaitu orang yang mengetahui kebenaran dan mengikutinya.
- Kedua, غَاوِيٌ (ghawi) yaitu orang yang mengetahui kebenaran tapi tidak mau mengikutinya
- ketiga, ضّالٌّ (dhal) yaitu orang yang tidak mengetahui hidayah secara menyeluruh.
Inti dan hakikat hidayah adalah taufik dari Allah Subahnahu Wa Ta’ala sebagaimana pada penjelasan sebelumnya, maka berdoa dan memohon hidayah kepada Allah Subahnahu Wa Ta’ala merupakan sebab yang paling utama untuk mendapatkan hidayah-Nya.
Semoga kita termasuk orang yang mendapatkan Hidayah
footnote
[1]. Miftâh Dâris Sa’âdah (I/305), ta’liq Ali bin Hasan al-Halabi, cet. Daar Ibnu ‘Affan, th. 1416 H.
[2]. Shahih: HR. Muslim (no. 118 (186)), at-Tirmidzi (no. 2195), Ahmad (II/304, 523), Ibnu Hibban (no. 1868-Mawârid), dan selainnya dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
Sumber: https://almanhaj.or.id/4299-hidayah-dan-istiqamah-di-atasnya.html
[1]. Miftâh Dâris Sa’âdah
(I/305), ta’liq Ali bin Hasan al-Halabi, cet. Daar Ibnu ‘Affan, th. 1416 H.[2]. Shahih: HR. Muslim (no. 118 (186)), at-Tirmidzi (no. 2195), Ahmad (II/304, 523), Ibnu Hibban (no. 1868-Mawârid), dan selainnya dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
Sumber: https://almanhaj.or.id/4299-hidayah-dan-istiqamah-di-atasnya.html
[2]. Shahih: HR. Muslim (no. 118 (186)), at-Tirmidzi (no. 2195), Ahmad (II/304, 523), Ibnu Hibban (no. 1868-Mawârid), dan selainnya dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[3]. Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (II/126), cet. Muassasah ar-Risalah.
referensi:
https://almanhaj.or.id/4299-hidayah-dan-istiqamah-di-atasnya.html
Manusia
membutuhkan hidayah lebih dari kebutuhan mereka terhadap makan dan
minum. Bahkan Allâh Subahnahu wa Ta’ala memerintahkan kaum Muslimin
dalam shalatnya untuk senantiasa memohon hidayah kepada Allâh Azza wa
Jalla sebanyak tujuh belas kali setiap harinya. Ini menunjukkan betapa
pentingnya hidayah itu dalam hidup dan kehidupan manusia.
Betapa pentingnya masalah hidayah, banyak manusia yang memohon dan mengharapkan hidayah menyapa dirinya. Tapi sayang, mereka tidak mau berusaha untuk menjalankan sebab-sebabnya. Hidayah tidak akan datang secara tiba-tiba dan gratis. Hidayah memerlukan perjuangan untuk mendapatkannya. Tidak mungkin Allâh Subahnahu wa Ta’ala mengutus malaikat-Nya untuk menuntun tangan seorang hamba agar bergerak menuju masjid untuk menunaikan shalat berjamaah, kalau hamba tersebut bermalas-malasan ketika mendengar adzan dan tidak mau mengambil air wudhu. Tidak mungkin juga Allâh Azza wa Jalla mengutus malaikat-Nya untuk menarik tangan seorang hamba dari kemaksiatan dan kemungkaran, kalau hamba tersebut tidak berusaha menjauhinya.
Sumber: https://almanhaj.or.id/4299-hidayah-dan-istiqamah-di-atasnya.html
Betapa pentingnya masalah hidayah, banyak manusia yang memohon dan mengharapkan hidayah menyapa dirinya. Tapi sayang, mereka tidak mau berusaha untuk menjalankan sebab-sebabnya. Hidayah tidak akan datang secara tiba-tiba dan gratis. Hidayah memerlukan perjuangan untuk mendapatkannya. Tidak mungkin Allâh Subahnahu wa Ta’ala mengutus malaikat-Nya untuk menuntun tangan seorang hamba agar bergerak menuju masjid untuk menunaikan shalat berjamaah, kalau hamba tersebut bermalas-malasan ketika mendengar adzan dan tidak mau mengambil air wudhu. Tidak mungkin juga Allâh Azza wa Jalla mengutus malaikat-Nya untuk menarik tangan seorang hamba dari kemaksiatan dan kemungkaran, kalau hamba tersebut tidak berusaha menjauhinya.
Sumber: https://almanhaj.or.id/4299-hidayah-dan-istiqamah-di-atasnya.html
Categories: wasiat

0 komentar:
Posting Komentar