2. Shafar
Bulan Safar adalah bulan kedua dalam penanggalan Hijriyah yakni bulan sesudah Muharram menurut kalendar Islam atu Hijriyah dari tahun Qamariyah atau perkiraan bulan mengelilingi bumi. Jika dilihat secara etimologi, Safar dalam bahasa Arab berarti kosong, kuning dan nama dari penyakit.
Pemikiran Arab Jahiliyah
Bulan ini dinamakan bulan Safar dalam arti kosong sebab menjadi kebiasaan dari orang Arab pada jaman dulu yang meninggalkan rumah mereka sehingga menjadi kosong pada bulan tersebut dalam artian menunjukkan arti yang negatif dan inilah yang akhirnya memberikan arti jika bulan Safar adalah bulan yang harus diwaspadai karena memiliki banyak kesialan.
Ada juga yang mengatakan jika Safar diambil dari nama penyakit seperti yang juga diyakini orang Arab jahiliyah di masa lampau yakni penyakit safar yang ada di perut sehingga akan membuat seseorang menjadi sakit karena terdapat ulat besar yang sangat berbahaya. Sadar juga dinyatakan sebagai jenis angin berhawa panas yang terjadi pada perut serta banyak pengartian lainnya dari kata Safar tersebut.
Pendapat yang menyatakan jika bulan Safar adalah bulan sial dan tidak baik untuk mengadakan sebuah acara penting merupakan khufarat atau tahayul dan mitos. Khurafat adalah bentuk penyimpangan dalam akidah Islam. Beberapa keyakinan dalam hal ini meliputi beberapa larangan seperti melakukan pernikahan, khitan dan berbagai perbuatan lain yang apabila dilakukan akan menimbulkan musibah atau kesialan.
Pemikiran ini terus saja berkembang dari setiap generasi bahkan hingga sekarang yang dianggap sebagai bulan tidak menguntungkan. Mitos akan hal ini sebenarnya sudah dibantah oleh Rasulullah SAW yang bersabda jika bulan Safar bukanlah bulan yang sial dan sudah jelas tidak masuk dalam dasar hokum Islam.
Pada dasarnya, bulan Safar juga terdapat kebaikan serta keburukan seperti halnya bulan yang lain. Kebaikan yang ada hanya semata mata datang dari Allah dan keburukan terjadi karena taqdir-Nya.
Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda, “Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah, tidak ada kesialan karena burung hantu, tidak ada kesialan pada bulan Shafar.” [HR. Al-Bukhari 5437, Muslim 2220, Abu Dawud 3911, Ahmad (II/327)]
Selain itu, kepercayaan, mitos atau tahayul juga sudah secara tegas dibantah oleh Rasulullah SAW. Dari Abu Hurairah r.a., Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidak ada penyakit menular (yang berlaku tanpa izin Allah), tidak ada buruk sangka pada sesuatu kejadian, tidak ada malang pada burung hantu, dan tidak ada bala (bencana) pada bulan Safar (seperti yang dipercayai).”

